Plasenta untuk Pengobatan?

December 19th, 2005 by kejora

Berikut ini tulisanku mengenai plasenta. Setuju tak setuju dapat dilontarkan dengan cara yang konstruktif dan bernash. Bisa dengan tulisan dan lisan. Maklumlah, zaman serba canggih perlu pandangan yang komprehensif untuk dijadikan pegangan hidup (deuuuu….berat benerrr).

Siapa tahu bisa jadi ide puisi, cerpen, novel, film? Saya mah cukup jadi bagian keciiiil dari trigernya saja :p. Moga bermanfaat.

TERAPI DENGAN PLASENTA

Organ plasenta kini sering disebut-sebut sebagai salah satu sumber pengobatan. Kontroversi penggunaan satu bagian kecil dari tubuh manusia untuk pengobatan sepertinya tak mencuat lagi. Mungkin karena manfaat plasenta yang demikian "dahsyat". Plasenta ini dapat menggantikan sumsum tulang belakang dalam proses penyembuhan penyakit mematikan leukimia. Resikonya pun lebih kecil: proses pengambilan tidak menyakitkan; tidak berisiko dan tidak memerlukan pembiusan; prosesnya singkat; dapat disimpan di Bank Darah Tali Pusar; bisa diambil segera di Bank Darah; sumbernya darah tali pusar keluarga; risiko GvHD komplikasi lebih kecil.

Memang bukan plasenta utuh yang dipakai, tetapi sel induk pada ari-ari dan tali pusar. Ilustrasi dapat dilihat pada poto di atas. Mudah2an tidak terlalu kecil.

Plasenta memang bukan barang baru dalam dunia medis. Sejak 60-30 tahun Sebelum Masehi (zamannya Cleopatra, Ratu Mesir Kuno) plasenta sudah dipakai untuk mempercantik diri. Marie Antoniette (1755-1793), Sang Ratu Prancis juga melakukan hal yang sama. 1930, Vladimir Filatov, seorang peneliti asal Rusia menemukan peran lain plasenta, yaitu untuk mengobati luka bakar. Setelah itu, plasenta juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh para astronot.

Proses plasenta yang memiliki banyak sekali zat bermanfaat (nitrogen prolin yang dapat mengencangkan kulit dan berguna untuk memperkuat tulang , asam glutamat yang dapat meningkatkan sinyal dalam sel-sel saraf otak, dan histidin) termasuk rumit. Pensterilannya harus sebesar 5000 atmosfer baru dapat digunakan. Wallahu a’lam bi showab. (just2b.blogspot.com)

Sumber: GATRA, edisi 17 Desember 2005

INTERNET, PENDIDIKAN, & BLOGG(NET)ER

December 19th, 2005 by kejora

internet. salah satu bentuk kemajuan ICT atau TKI. TKI yang satu ini tidak bermasalah dengan majikan dan agen penyalur jasa, tapi erat dengan Teknologi. hiya. yang kumaksud TKI ini teknologi komunikasi dan informasi.

internet juga bukti kalau dunia ini benar-benar bisa mengkerut! jarak, waktu,dan biaya bisa jadi lebih dekat, singkat, dan murat (hehe maksa…murah, maksudnya). kondisi ini memicu globalisasi dan tentu saja dunia pendidikan. di negeri para bule, internet atau sederhananya komputer sudah diperkenalkan pada siswa sejak tahun delapan puluh. sejak aye baru nongol di dunia! di Indonesia? baru kemaren waktu aye usia remaja. itu juga mengenal dos. ya. negara kita tertinggal 10 tahun dalam soal pendidikan. contoh lain? Indonesia baru mensosialisasikan portofolio dalam penilaian. menjadikannya pembahasan, wacana, uji coba. di sana? tahun 90an dah online. sekolah, guru, siswa, dan orang tua murid sudah paham apa dan bagaimana portofolio itu. di sini mah masih perdebatan mengenai efisien atau tidaknya model penilaian ini? dengar-dengar para guru mengeluh juga. maklumlah, kalau pakai portofolio kerjaan jadi nambah berat. lha iya. kan portofolio itu untuk kelas kecil yang isinya 15 sampai 20an orang. beda dengan sekolahan kita yang bisa sampai 50 orang satu kelas. menurutku sih, kita sering asal comot model penilaian di luar itu tanpa penyesuaian dengan kondisi di lapangan. maap nih, jadi melebar.

balik lagi ke internet. tahapan perkembangan di kita masih pada pengenalan perangkat keras. dari makalah menteri, kabarnya pemerintah sudah membuat rencana atau action plan World Summit on the Information Society, 12 Desember 2003,Geneva pada tahun 2015 untuk:
• Menghubungkan Desa dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dan membentuk Community Access Point;
• Menghubungkan Universitas, Akademi, tingkat SMU dan SMP, tingkat SD dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT);
• Menghubungkan Pusat Ilmu dan Penelitian dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT);
• Menghubungkan Perpustakaan Umum, Pusat Kebudayaan, Museum, KantorPos dan Kearsipan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT);
• Menghubungkan Pusat Kesehatan dan Rumah Sakit dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT);
• Menghubungkan seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah dan membuat website dan alamat e-mail;
• Mengadopsi seluruh kurikulum sekolah dasar dan menengah dalam menghadapi tantangan masyarakat informasi, harus diperhitungkan padataraf nasional;
• Memastikan bahwa seluruh populasi di dunia mempunyai akses untukpelayanan televisi dan radio;
• Mendorong pengembangan konten dan menempatkan pada tempatnyakondisi secara teknis dalam rangka memfasilitasi keadaan terkini dan penggunaan semua bahasa di dunia di Internet; • Memastikan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia mempunyai akses dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT).

well, kita lihat saja apa rencana itu hanya di atas kertas atau bisa menjelma jadi kenyataan…
kayaknya sih bisa aja asal mba2 dan mas2 para blogger dan netter juga mau ikutan jadi guru TKI di sekolah2. kurikulumnya dah ada. masih dalam taraf uji coba. atau bikin link pendidikan seperti
aktivis kebumen?hm….kayaknya lumayan bisa jadi ide buat bikin tesis :p.

Puisi-puisi Hati

June 13th, 2005 by kejora

Sebelum Berangkat

Berdiri beberapa meter

di depan gerbang istana

ada yang tersenyum

ada yang melambai

ah, sepertinya menarik

Tapi, apa itu di sudut

sana

?

Tangisan dan erangan kesakitan?

Aghkh…pedih sekali!

Bukankah istana ini dicipta

untuk kesempurnaan bahagia

dan menyempurnakan kebahagiaan?

Aneh.

Aku berbalik sejenak

…beberapa jenak

Duduk di bawah sebatang tiang,

memeriksa bekal yang kubawa;

hmm, nampaknya belum cukup benar

Aku belum bawa peta

Belum punya sabar yang dewasa

Tak cukup berbekal asa

[ paling tidak, segenggam rasa

yang bertanggung jawab pada Rabbul Izzati]

~ keputusan itu bukan untuk sekarang;

tapi buat nanti dan kelak. 23/05/05 Vbi ~

Tidak Ada yang Terlalu Dini

andai rasa yang kupunya

adalah kertas,

akan kurobek?

hmmm…tidak jadi, ah

akan kulaminating saja.

agar waterproof

tak luntur dan sobek

jika embun hatiku menguap

dan menjelma gerimis

seperti pagi ini

di bumiku.

~ big smile 4 my self, 14/06/05 (Vb) ~

Tebakan,

apa beda:

kembang api dan lilin?

Bisa sebutkan 15?

Apa persamaannya?

15?

~ ini teh puisi? 14/06/05 (Vb) ~

Tong Madu Seorang Raja

June 4th, 2005 by kejora

Raja dan Tong Madu

Seorang raja yang sangat suka akan madu yang mahal, ingin menguji sejauh manakah cinta rakyat pada baginda. Dia meletakkan sebuah tong kosong di Ibukota kerajaan dan mengumumkan: Barangsiapa yang cinta akan baginda harus menuangkan secawan madu asli ke dalam tong itu. Seorang rakyatnya berpikir, jika setiap orang menuangkan madu, ia boleh menuangkan secangkir air sebagai gantinya. Secawan air tidak akan disadari dalam sebuah tong berisi madu. Saat raja membuka tong itu kemudian, baginda mendapati tong penuh air. Ini menunjukkan setiap orang punya pendapat yang sama.

Maroji’:

Panduan Latihan bagi Gerakan Islam, Dr. Hisham Yahya Altalib, Media Dakwah,

Jakarta

: 1999

Dari filler di atas, hikmah apa yang bisa Anda peroleh? Ah, alangkah kasihan seorang pemimpin yang memiliki rakyat dengan loyalitas semu.

***

Ini ada bahan renungan yang saya baca di Panduan Latihan bagi Gerakan Islam (Dr. Hisham Yahya Altalib, Media Dakwah, Jakarta: 1999)

memerlukan kerendahan hati untuk membacanya. Pernah tidak, melakukan beberapa hal di bawah ini?

Hayo, tugas siapa nih…

June 4th, 2005 by kejora

TUGAS SIAPA ITU?

Cerita ini tentang

Empat orang yang bernama

Semua Orang, Seseorang,

Siapa Saja, dan Tak Seorang pun.

Ada

tugas penting untuk dikerjakan

Dan Semua Orang diminta melakukannya.

Semua Orang yakin,

bahwa Seseorang akan melakukannya

Siapa Saja bisa melakukannya,

tetapi Tak Seorang pun yang

melakukannya.

Seseorang menjadi marah

tentang itu, sebab ini

tugas Semua Orang.

Semua Orang menganggap,

bahwa Siapa Saja dapat melakukannya,

tetapi Tak Seorang pun menyadari,

bahwa Semua Orang tidak akan

melakukannya.

Akhirnya,

Semua Orang menyalahkan

Seseorang ketika

Tidak Seorang pun melakukan apa yang

bisa dilakukan oleh Siapa Saja

Menjadi Pendengar yang Baik

June 4th, 2005 by kejora

Menjadi Pendengar yang Baik

Febi Robianti

Kita menggunakan waktu dalam kehidupan ini dengan bentuk aktifitas yang disebut ‘komunikasi’ (70 % dari keseluruhan). Media komunikasi kini sudah beraneka ragam. Tak perlu tatap wajah, informasi dapat tiba kepada orang lain dan langsung mendapat respon dalam waktu singkat dengan alat komunikasi elektronik, seperti TV, radio, telepon atau internet.

Khusus bagi kita yang telah memaknai kehidupan ini sebagai sebuah wahana untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan bersama, tentu berusaha sekuat tenaga agar komunikasi yang terjalin pun memiliki nilai positif. Contoh pemaknaan ini adalah komunikasi langsung tanpa perantara. Ketika seorang individu datang berkunjung kepada yang lain, terjadilah hubungan yang akrab dan ‘manis’. Mereka saling menanyakan kabar dan menyampaikan berita. Mereka sedang menjalin komunikasi. Tetapi, apa yang perlu diperhatikan agar hubungan yang ‘hangat’ ini bertahan lama dan tak ada peluang dan kesempatan bagi pemutus tali kasih sayang di antara mereka?

Jawabannya singkat saja, yaitu mendengar. Menjadi pembicara yang baik tampaknya berawal dari menjadi pendengar yang baik. Pernyataan ini kebenarannya dapat bersifat relatif, tetapi bisa kita renungkan.

Mengapa Allah SWT menciptakan dua telinga dan satu mulut? Sebuah pertanyaan lain yang sering kali muncul adalah, “Apa penyebab terbanyak dari kesalahpahaman dan kesalahsangkaan?” Jawabannya, “Karena kita lebih banyak berbicara, tetapi tidak banyak mendengar”. Akuilah, bahwa kita sering mengatakan, “Bukan itu maksudku.”

Bukankah seharusnya …

Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi menyatakan bahwa kita hanya mendapat informasi dalam bentuk kata-kata sebanyak 7 %. Sisanya 53 % dari bahasa tubuh, sedangkan nada atau intonasi 40 %. Jadi, alangkah baiknya jika kita berusaha sebaik mungkin memerhatikan siapa pun yang berbicara agar informasi dapat kita pahami dengan tepat. Berikut ini adalah hal-hal yang harus kita hindari ketika mendengar

1. Mengawang-awang

2. Berpura-pura paham

3. Mendengar selektif

4. Mendengarkan dengan pemahaman sendiri.

Dengarkanlah, kalau tidak, lidahmu akan membuatmu tuli!

Aborsi

June 4th, 2005 by kejora

ALL ABOUT ABORSI

Aborsi? Ya. Memang agak syerem, sih. Tapi, ini sebuah kenyataan yang harus kita pahami tentang apa dan bagaimana aborsi. Di bawah ini beberapa komentar dari beberapa orang yang terlibat dalam praktik aborsi.

CONTOH ABORSI

Pada kehamilan muda (dibawah 1 bulan) Pada kehamilan muda, dimana usia janin masih sangat kecil, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut. Pada kehamilan lebih lanjut (1-3 bulan) Pada tahap ini, dimana janin baru berusia sekitar beberapa minggu, bagian-bagian tubuhnya mulai terbentuk. Aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher. Kemudian setelah ditusuk, dihancurkan bagian-bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan. Dalam klinik aborsi, bisa dilihat potongan-potongan bayi yang dihancurkan ini. Ada potongan tangan, potongan kaki, potongan kepala dan bagian-bagian tubuh lain yang mungil. Anak tak berdosa yang masih sedemikian kecil telah dibunuh dengan cara yang paling mengerikan. Aborsi pada kehamilan lanjutan (3 sampai 6 bulan) Pada tahap ini, bayi sudah semakin besar dan bagian-bagian tubuhnya sudah terlihat jelas. Jantungnya sudah berdetak, tangannya sudah bisa menggenggam. Tubuhnya sudah bisa merasakan sakit, karena jaringan syarafnya sudah terbentuk dengan baik. Aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya – setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari – bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras. Aborsi bukan saja merupakan pembunuhan, tetapi pembunuhan secara amat keji. Setiap wanita harus sadar mengenai hal ini. Aborsi pada kehamilan besar (6 sampai 9 bulan) Pada tahap ini, bayi sudah sangat jelas terbentuk. Wajahnya sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja. Biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan ke dalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas – hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini – bahwa pembunuhan keji telah terjadi. Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit. Mereka tidak sadar karena di bawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan. Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi, bagi bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu. Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.

TINDAKAN ABORSI

Ada 2 macam tindakan aborsi, yaitu: 1. Aborsi dilakukan sendiri 2. Aborsi dilakukan orang lain Aborsi dilakukan sendiri Aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara memakan obat-obatan yang membahayakan janin, atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dengan sengaja ingin menggugurkan janin. Aborsi dilakukan orang lain Orang lain di sini bisa seorang dokter, bidan atau dukun beranak. Cara-cara yang digunakan juga beragam. Aborsi yang dilakukan seorang dokter atau bidan pada umumnya dilakukan dalam 5 tahapan, yaitu: 1. Bayi dibunuh dengan cara ditusuk atau diremukkan di dalam kandungan 2. Bayi dipotong-potong tubuhnya agar mudah dikeluarkan 3. Potongan bayi dikeluarkan satu persatu dari kandungan 4. Potongan-potongan disusun kembali untuk memastikan lengkap dan tidak tersisa 5. Potongan-potongan bayi kemudian dibuang ke tempat sampah / sungai, dikubur di tanah kosong, atau dibakar di tungku (1) (2) Sedangkan seorang dukun beranak biasanya melaksanakan aborsi dengan cara memberi ramuan obat pada calon ibu dan mengurut perut calon ibu untuk mengeluarkan secara paksa janin dalam kandungannya. Hal ini sangat berbahaya, sebab pengurutan belum tentu membuahkan hasil yang diinginkan dan kemungkinan malah membawa cacat bagi janin dan trauma hebat bagi calon ibu.

RESIKO ABORSI

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia “tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang”. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi: 1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik 2. Resiko gangguan psikologis Resiko kesehatan dan keselamatan fisik Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu: 1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat 2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal 3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan 4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation) 5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya 6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita) 7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer) 8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer) 9. Kanker hati (Liver Cancer) 10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya 11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy) 12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease) 13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis) Resiko kesehatan mental Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam “Psychological Reactions Reported After Abortion” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994). Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini: 1. Kehilangan harga diri (82%) 2. Berteriak-teriak histeris (51%) 3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%) 4. Ingin melakukan bunuh diri (28%) 5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%) 6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%) Di luar hal-hal tersebut di atas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.

PENGAKUAN

Saat itu menjelang tengah malam, saya sedang berada di Unit Gawat Darurat ketika seorang remaja yang saya perkirakan tidak lebih dari umur 20 tahun masuk dengan mimik muka kebingungan bercampur takut. Saya mulai bertanya mencari tahu apa masalahnya sehingga ia datang untuk berobat. Ia mulai dengan pernyataan bahwa ia mengalami pendarahan hilang timbul selama hampir tiga bulan. Ketika saya mulai memancing dengan pertanyaan mengenai riwayat menstruasinya, dengan nada agak panik ia mengaku telah melakukan aborsi di sebuah klinik dengan seorang dokter spesialis hampir tiga bulan yang lalu. Setelah hampir seminggu dikuret ia mulai mengalami pendarahan. Sebelumnya ia pernah mencoba aborsi dengan mengkonsumsi obat-obatan dari dokter lain. Setelah minum obat itu, ia mulai merasa sakit perut lalu ada yang keluar dari (maaf) lubang kemaluannya berupa darah dan gumpalan-gumpalan. Sampai sekarang ia merasa ada yang masih mengganjal di sana. Ia sudah coba menariknya tetapi tidak bisa. Hal itu membuat ia ketakutan. Saya putuskan untuk memeriksanya. Biarpun saya sudah dapat menduga apa yang sedang terjadi, sejujurnya saya tidak pernah menyangka bahwa yang terlihat adalah potongan sepasang kaki mungil milik janin berusia kurang lebih 15-16 minggu yang ‘lolos’ dari usaha aborsi. (Seperti yang diceritakan TN, seorang dokter umum disalah satu rumah sakit Jakarta)” Waktu pertama kali melakukan pengguguran, saya merasa menjadi seorang pembunuh. Tetapi saya melakukannya lagi, lagi dan lagi, dan 20 tahun kemudian saya menjadi kebal terhadap suara hati nurani. Yah, saya perlu uang. Karena itu adalah pekerjaan yang mudah maka saya terpaksa melihat para wanita sebagai hewan dan bayi-bayi itu sebagai kumpulan daging belaka. (dokter NN) Mula-mula kami melakukan pengguguran pada janin-janin kecil…sehingga detakan-detakan jantung dan geraknya tak begitu nyata. Saya pikir janin-janin berumur 15-16 minggu itu tentu belum bisa merasa apa-apa. Tanpa sadar, kami mulai melakukan pengguguran terhadap janin-janin besar. Tiba-tiba waktu kami menyuntikkan cairan garam, kami melihat ada gerakan-gerakan dalam rahim. Pasti ini adalah janin yang menderita akibat menelan cairan garam, ia menendang-nendang dengan panik dalam keadaan sekarat. Kami menghibur diri dengan mengatakan bahwa itu hanya disebabkan oleh kontraksi otot-otot rahim saja. Tapi, jujurnya hal ini menekan batin kami, sebab sebagai dokter kami mengerti betul bahwa bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kami telah melakukan pembunuhan. (Dr. John Szenens) Saya mengalami banyak kesukaran dalam perasaan saya karena pengguguran di masa lalu. Suatu hari saya memasuki ruangan dimana mereka menyimpan janin-janin itu sebelum dibakar. Janin-janin itu dikumpulkan dalam waah-wadah, seperti ayam potong yang dijual di pasar. Saya menjenguk ke dalam wadah di depan saya. Di dalamnya ada bayi kecil telanjang, berlumuran darah. Ia berwarna merah keungu-unguan karena memar dan wajahnya tegang, menderita sekali sebab dipaksa untuk mati terlalu cepat. (Susan Lindstrom) Saya tidak suka dengan ide aborsi. Menurut saya, ketika sperma membuahi sel telur ia sudah menjadi seorang manusia. Mungkin belum terlihat bentuk manusianya tapi ia sudah hidup dan sedang memulai suatu proses pematangan dari bagian-bagian yang sebenarnya sudah ada sejak pembuahan. Terkadang saya berpikir daripada diaborsi, lebih baik ia dilahirkan dan diadopsi oleh orang lain. Betapa mengherankan bila dipikir, disatu sisi banyak pasangan yang sudah menikah begitu rindu ingin punya anak dan bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan seorang anak, namun disisi lain ada orang yang membuang, seakan-akan janin itu hanyalah onggokan daging belaka. Saya mengerti, banyak faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan dan membantu melakukan aborsi. Namun apa pun alasannya, di mata Tuhan itu salah. (Dr. Kartini, Jakarta) Sumber: ABORSI.NET(21 Desember 2003)

Millah Ibrahim telah Dikhianati

June 4th, 2005 by kejora

Millah Ibrahim telah Dikhianati

Al-Allamah Sulaiman bin Sahman menuturkan:

“Millah Ibrahim telah dikhianati jalannya,

hingga sirna dan berlalu tanpa bekas lagi.

Kini dia tak lagi di sisi kita,

bagaimana lagi?

Ia telah dihembus angin di segala penjuru bumi.

Agama hanyalah rasa benci dan cinta,

berloyalitas dan  sikap antipati,

terhadap setiap penyeleweng dan setiap pelaku dosa,

Namun millah itu tak lagi punya pemeluk setia,

yang memegang ajaran Nabi Al-Abthani bin Hasyim (Muhammad) sebagai agama,

Kami tak tahu,

apa yang menimpa agama itu,

apa penyebab hilangnya millah nan baik itu,

oh sungguh adalah malapetaka,

Dengan keteledoran ini,

kita patut berduka lara,

berteduh di sisi Allah memohon dihapusnya dosa-dosa,

Kita memohon ampun pada Allah,

akan hati yang keras dan bernoda hitam karena terbalut kesalahan,

Bila datang kepada kita orang yang berlumuran noda-noda syirik,

akankah kita sambut dirinya dengan salam dan sanjungan,

berpayah-payah menghormatinya dengan pesta selamatan?

Nabi yang terpelihara dari dosa,

berlepas diri dari muslim yang kuasa,

untuk bertempat di negeri syirik tanpa memeranginya,

Akal yang hidup menurut kami,

menyelamatkan mereka yang berbuat maksiat,

dari setiap penggemar dosa…”